Jumat, 22 April 2011

Cara Menetaskan Telur

Ada beberapa jenis alat untuk menetaskan telur di antaranya: 1) Alat tetas dengan teknologi sekam dan sumber panas matahari; 2) Mesin tetas listrik dengan lampu bohlam sebagai alat pemanasnya; 3) Mesin tetas dengan menggunakan lampu minyak; 4) Mesin tetas dengan kawat nekelin; 5) Mesin tetas kombinasi dan 6) Mesin tetas otomatis.
Dengan menggunakan mesin tetas, maka induk ayam kampung terus menerus dapat menghasilkan telur, tanpa terpotong oleh masa mengerami selama 21 hari dan juga tanpa terpotong waktunya untuk membesarkan anak-anak ayam setidaknya untuk jangka waktu 30 – 45 hari.
Masing-masing jenis alat mesin tersebut tentu berbeda cara membuatnya. Untuk mengetahui lebih lanjut teknis pembuatan mesin tetas tersebut, Sinar Tani akan mengupasnya di lain kesempatan.
Selain membuat sendiri, Anda juga bisa membeli mesin tetas. Pilihlah mesin penetas telur yang baik dan sesuai dengan kebutuhan. Mesin tetas yang baik adalah yang memiliki prosentase penetasan yang tinggi, walaupun prosentase penetasan yang tinggi tidak hanya dipengaruhi oleh mesin penetas saja, tetapi juga oleh bibit yang baik, pemeliharaan dan lain-lain. Mesin penetas telur juga harus disesuaikan dengan kebutuhan, jika kebutuhan penetasan telur hanya 100 butir per periode, tidak efektif kalau kita gunakan mesin penetas berkapasitas 500 butir. Periksa dengan seksama kelengkapan mesin tetas dan pastikan dapat beroperasi dengan baik dengan suhu dan kelembaban yang tepat sebelum telur dimasukkan.
Suhu ideal ruang mesin tetas pada kisaran 37-38 derajat Celcius, meski telur dapat menetas pada suhu antara 36 sampai dengan 40 derajat celsius. Proses penetasannya, pertama, pemasukan telur ke mesin tetas, dilakukan setelah dipastikan mesin tetas benar-benar siap untuk dipergunakan, parameter kesiapan mesin tetas adalah suhu sudah sesuai dengan standard, kelembaban udara cukup ideal, tidak ada lubang yang akan mengurangi performa mesin tetas. Sebelumnya mesin tetas telah disemprot dengan disinfectant terlebih dahulu. Dan bersihkan telur-telur ayam dari berbagai macam kotoran. Selama 3 hari pertama telur didiamkan dalam mesin tetas dan tidak usah dibuka dan tidak dilakukan pembalikan telur. Cukup diamati suhu di dalam ruangan, jika suhu sudah konstan di nilai ideal biarkan saja, jika tidak perlu disesuaikan.
Setelah 3 hari sudah bisa dilihat telur-telur yang memiliki benih atau tidak. Telur yang tidak memiliki benih ayam perlu disortir karena tidak akan menetas, telur ini masih bisa untuk dikonsumsi dan masih bisa dijual atau dijadikan makanan. Memasuki hari keempat sampai hari ke 18, telur ayam sudah harus kita bolak-balik sehari 2 sampai 4 kali, bahkan 6 kali, frekuansi pemutaran telur akan berpengaruh pada daya tetas telur. Semakin sering akan semakin baik.
Pada hari keempat tersebut telur perlu diangin-anginkan dengan cara membuka tutup mesin penetas selama kurang lebih 10 sampai dengan 15 menit. Proses mengangin-anginkan telur ini perlu dilakukan setiap 3 sampai 4 hari sekali sampai hari ke 18. Dalam masa pengeraman ini yang perlu diperhatikan selain suhu dijaga supaya tetap konstan adalah kelembaban udara. Jika kelembaban dirasa kurang bisa ditambahkan dengan menyemprotkan air hangat ke telur-telur. Pada Penetasan telur ayam hal ini jarang perlu dilakukan.
Pada hari ke 18 telur sudah tidak perlu lagi dibolak-balik, diamkan dalam mesin tetas, mesin tetas ditutup dan cukup dikontrol parameter suhu ruangan dan kelembabannya. Setelah hari ke 21 telur ayam sudah menetas, bahkan di hari ke 20 kemungkinan sudah ada yang menetas. Segera pindahkan anakan ayam yang menetas ke ruangan lain agar tidak mengganggu telur yang belum menetas. Tempat pemindahannya haruslah ruangan yang bersuhu sama. Anak ayam yang baru menetas masih menggunakan energi dari makanan cadangan dari telur, sedikit demi sedikit dilatih makan dengan menaburkan makanan di bulu-bulunya.
Teknik Pengaturan Suhu yang Tepat
oleh MesinTetas.com | kirim komentar
Suhu yang tepat adalah merupakan syarat mutlak untuk mendapatkan daya tetas setinggi mungkin.  Pengaturan suhu pada mesin tetas berlangsung secara otomatis menggunakan alat yang disebut thermostat. Pada umumnya mesin tetas menggunakan thermostat elektro-mekanikal dengan sensor pemanas (kapsul) tipe wafer. Sensor ini berupa dua keping pelat berongga berbahan kuningan dan diisi dengan eter, yang akan mengembang jika panas bertambah dan mengerut jika panas berkurang, dan menghasilkan gerakan yang mengaktifkan saklar mikro (microswitch). Kemudian microswitch inilah yang akan mematikan dan menghidupkan pemanas (lampu atau nikelin). Dengan demikian panas dalam mesin tetas akan naik dan turun dalam kisaran tertentu, namun tidak boleh melebihi 1° C. Misalnya jika suhu terendah (saat pemanas mati) adalah 38°C maka suhu tertinggi (saat pemanas hidup) maksimum 39°C.
Pengaturan suhu mesin tetas sebenarnya cukup mudah, namun pada prakteknya seringkali terkesan sulit karena umumnya orang tidak tahu (atau tidak mau tahu?) cara kerjanya. Karena itu, untuk pengguna baru sangat disarankan untuk memahami cara kerjanya dan melakukan percobaan-percobaan terlebih dahulu.
Pengaturan suhu juga sangat bergantung pada ketepatan kita membaca termometer. Untuk itu letakkan termometer di tengah2 telur untuk pembacaan paling akurat. Prinsip utama pembacaan suhu adalah memonitor suhu pada termometer pada saat lampu pemanas mati atau hidup. Inilah keuntungan mesin tetas yang menggunakan pemanas lampu pijar seperti pada Minorca karena sangat mudah mengetahui batas suhu terendah dan suhu tertinggi. Seperti diketahui suhu akan turun jika pemanas mati dan akan naik jika pemanas hidup. Namun demikian, pembacaan suhu hanya dapat dilakukan saat lampu pemanas hidup karena pandangan ke dalam mesin tetas akan lebih terang.
Sebelumnya, masukkan bak yang telah diisi air dan hidupkan mesin tetas dan biarkan selama 1-2 jam. Kemudian, untuk membaca suhu tertinggi, pandanglah skala pada termometer terus menerus hingga lampu padam, sesaat setelah lampu padam itulah yang menunjukkan suhu tertinggi. Sedangkan untuk membaca suhu terendah, tunggu hingga lampu hidup lagi. Sesaat setelah lampu hidup, baca skala pada termometer, maka itulah suhu terendah.
Jika suhu terendah menunjukkan angka lebih kurang 38°C dan suhu tertinggi adalah 38,5 – 39°C, maka pengaturan suhu telah tepat. Namun jika suhu terendah kurang dari 38°C dan suhu tertinggi lebih dari 39°C, maka lakukan pengaturan kembali dengan memutar baut pengatur 1/4 – 1/2 putaran. Namun demikian, mengingat pembacaan suhu yang tidak mungkin akurat 100%, maka penyimpangan +/- 0,5°C masih dapat ditoleransi.
Pengoperasian Mesin Tetas yang benar
oleh MesinTetas.com | kirim komentar

  1. Letakkan mesin tetas di tempat yang terlindung dari sinar matahari langsung atau sumber panas lainnya. Jangan meletakkan ditempat yang kotor, lembab seperti di gudang, dekat kamar mandi, dekat tempat cucian, dan jangan diletakkan menempel pada dinding bangunan.
    Peletakan yang terbaik adalah di dalam ruangan yang agak luas, tidak tertutup barang lain, bersih ( berlantai semen atau keramik ), berventilasi baik ( tidak pengap ).
  2. Telur yang akan ditetaskan berumur maksimum 7 hari, terbaik maksimum 3 hari. Sebelum ditetaskan telur diletakkan dalam tray plastik ( bukan tray kertas ), karena tray plastik tidak menyerap kotoran dan lebih awet. Perhatikan agar suhu udara di sekitar telur tidak terlalu tinggi, terbaik bersuhu 20 – 30°C, dan cukup lembab, contohnya di dalam lemari pendingin atau dekat sumber air ( di atas ember berisi air atau dekat kamar mandi ). Perhatikan peletakan telur, sisi tumpulnya harus berada di atas, bukan sebaliknya.
  3. Biasakan melakukan test pendahuluan dengan mencoba fungsi-fungsi mesin tetas agar bekerja secara normal. Biasakan juga selalu melakukan cek suhu dengan seksama setiap akan melakukan penetasan baru. Sebelum telur dimasukkan ke dalam mesin tetas, biarkan mesin tetas beroperasi dalam keadaan kosong selama 2 – 3 jam ( kecuali saat pengoperasian pertama kali, harus sehari semalam ) untuk meratakan panas di dalamnya sekaligus cek suhu. Jika suhu turun sesaat memasukkan telur, jangan langsung melakukan koreksi suhu, karena mungkin penurunan diakibatkan penyerapan suhu dari telur yang lebih dingin. Setelah beberapa jam, suhu akan naik lagi.
  4. Jangan meletakkan benda berat di atas mesin tetas karena dapat mengganggu sistem pengaturan suhunya.
  5. Untuk mencegah masuknya semut atau serangga lain melewati lubang ventilasi pada mesin tetas, gunakan kapur anti semut pada kaki dan kabel mesin tetas.
  6. Jika listrik padam, jangan panik! Karena telur dapat bertahan selama ± 2-3 jam tanpa pemanasan, asalkan mesin tetas telah beroperasi minimal 3 – 5 hari. Namun jika pemadaman listrik lebih dari 3 jam, gunakan pemanas darurat berupa lampu minyak atau lilin berdiameter besar, dan arahkan nyalanya di bawah pelat aluminium yang terletak di bawah mesin tetas. Atur nyala api lampu minyak kecil saja, dan perhatikan thermometer agar tidak melebihi suhu 40°C, jika lebih, atur nyalanya atau atur jaraknya dari pelat aluminium. Alternatif lain gunakan lilin berdiameter besar ( jangan lilin kecil ) agar jaraknya ke pelat pemanas tidak cepat berkurang. Atur juga ketinggian lilin jika suhu di dalam mesin tetas terlalu tinggi.
    Menurut penelitian kami, jika listrik padam ( tidak ada pemanasan ) selama maksimum 3 jam, daya tetas telur dapat dipertahankan pada 95 – 100%. Jika padam 3 – 6 jam, daya tetas menjadi 80 – 95%, sedangkan jika padam 6 – 12 jam, daya tetas menjadi 40 – 70%. Namun jika padam lebih dari 12 jam, sebaiknya penetasan dibatalkan saja, karena kecil kemungkinan mendapat hasil penetasan yang baik, kalaupun ada yang menetas, biasanya berkualitas buruk.
  7. Jangan lupa untuk menambah air pelembab pada bak paling lambat 2 hari sekali. Pengisian dan penambahan air dapat dilakukan dari luar mesin tetas menggunakan botol berselang pada lubang yang terletak di bagian atas tengah. Akan lebih baik jika menggunakan hygrometer untuk memantau tingkat kelembaban ( minimal 55% ). Jika perlu, untuk telur unggas seperti bebek atau walet gunakan bak pelembab ekstra yang diletakkan di lantai mesin tetas.
  8. Jika telur sudah mulai retak ( biasanya mulai hari ke 19 untuk telur ayam ), keluarkan bak air yang ada di lantai mesin tetas ( bak air di box pemanas atas, jangan dikeluarkan ). Beri alas potongan koran pada lantai yang gunanya untuk mengumpulkan kotoran / bulu / sisa kulit telur sehingga pembersihan lantainya akan lebih mudah.
    Tips : Pindahkan semua telur pada rak telur tingkat teratas ke lantai yang telah dialasi potongan kertas koran, pindahkan juga telur yang terletak pada rak telur di bawahnya, jika masih mencukupi tempatnya. Susun telur-telur dengan posisi vertikal ( jangan ditidurkan ) dan teratur dengan sisi tumpul tetap menghadap ke atas. Jangan kuatir, anak ayam yang telah menetas dan jatuh di lantai bawah tidak akan mengalami apapun.
  9. Biarkan anak ayam yang baru menetas di dalam mesin tetas beberapa jam hingga badannya mengering, kemudian pindahkan ke tempat yang sudah disiapkan. Seringkali ada anak ayam yang sulit untuk keluar dari cangkangnya, sehingga perlu dibantu untuk memecahkan kulit cangkangnya. Hati-hati, pemecahan kulit harus perlahan-lahan, dan sedikit demi sedikit, untuk mencegah perdarahan. Namun demikian, anak ayam yang harus dibantu saat menetas, seringkali menjadi jelek kualitasnya, karena itu jika perlu pisahkan dengan anak ayam yang menetas normal, dan beri perhatian lebih besar untuk meningkatkan kualitasnya.
  10. Setelah semua anak ayam menetas, matikan mesin tetas, keluarkan semua rak telur, dan bak air, bersihkan menggunakan air bersih. Bersihkan pula kotoran, sisa kulit telur di dalam mesin tetas, semprot tipis-tipis dengan cairan desinfectan. Buka pintu mesin tetas selama 1 -2 hari untuk menguapkan sisa kotoran dan cairan di dalam mesin tetas. Jika perlu bersihkan pula bagian luar mesin tetas dari debu-debu yang menempel. Dengan pembersihan secara berkala, mesin tetas tentunya akan lebih tahan lama.
Teknik Penetasan Telur Itik
oleh MesinTetas.com | kirim komentar

Persiapan telur
  • Memilih atau menyeleksi telur tetas sesuai dengan kriteria telur tetas yang baik
  • Telur yang kulitnya terlalu kotor perlu dibersihkan, akan tetapi perlu ke hati-hatian dalam membersihkan kulit telur jangan sampai lapisan kulit ikut hilang
  • Pisahkan telur retak, kerabang tebal/tipis
Persiapan mesin tetas
  • Fumigasi mesin tetas telah dilakukan satu hari sebelum mesin dipakai meskipun mesin tersebut baru dibeli
  • Hubungkan mesin tetas dengan catu daya listrik dan tunggu sampai suhu mencapai kestabilan pada suhu 37-38°C. Pemanasan mesin tetas dilakukan minimal 3 jam sebelum telur dimasukkan ke dalam mesin tetas
  • Cek dengan seksama cara kerja thermostat, pitingan lampu dan yang lainnya
  • Sediakan cadangan bola lampu (dop) atau lampu templok (minyak tanah)
Setelah segala sesuatunya telah siap maka saatlah kita masuk ke tahap proses penetasan telur yang sebenarnya. Adapun urutan kerja selama proses penetasan telur itik adalah sebagai berikut :
Hari ke-1
  • Masukkan telur ke dalam mesin tetas dengan posisi miring atau tegak (bagian tumpul di atas). Telur bisa langsung begitu saja dimasukkan ke dalam mesin atau melalui proses prewarming terlebih dahulu yaitu dibilas secra merata dengan air hangat.
  • Ventilasi ditutup rapat
  • Kontrol suhu (38°C)
Hari ke-2
  • Ventilasi dibiarkan tertutup sampai hari ke-3
  • Kontrol suhu (38°C)
Hari ke-3
  • Pembalikan telur harian bisa dimulai pada hari ini atau masuk hari hari ke-4. Disarankan pembalikan telur minimal 3x dalam sehari-semalam (jika memungkinkan dipakai rentang waktu setiap 8 jam. Misalkan pagi pukul 05.00, siang pukul 13.00, dan malam pukul 21.00.
  • Bersamaan dengan itu bisa dilakukan peneropongan telur kalau sudah memungkinkan karena ketelitian seseorang berbeda-beda. Telur yang berembrio ditandakan dengan bintik hitam seperti mata yang ikut bergoyang ketika telur digerakkan dan disekitarnya ada serabut-serabut kecil. Kalau telur tidak menandakan tersebut dikeluarkan saja dam masih layak untuk dikonsumsi. Peneropongan telur dilaukan ditempat yang gelap argar bayangan telur nampak lebih jelas.
  • Kontrol suhu (38°C) dan lakukan penambahan air pada bak jika jumlah air dalam bak tersebut berkurang.
Hari ke-4
  • Pembalikan telur harian sesuai jadwal hari ke-3
  • Lubang ventilasi mulai dibuka ¼ bagian
  • Kontrol suhu (38°C)
Hari ke-5
  • Pembalikan telur harian
  • Ventilasi dibuka ½ bagian
  • Kontrol suhu (38°C)
Hari ke-6
  • Pembalikan telur harian
  • Ventilasi dibuka ¾ bagian
  • Kontrol suhu (38°C) dan lakukan penambahan air pada bak jika jumlah air dalam bak tersebut berkurang.
Hari ke-7
  • Pembalikan telur harian
  • Lakukan peneropongan telur untuk mengetahui perkembangan embrio (hidup atau mati). Embrio mati mati ditandakan dengan bercak darah atau lapisan darah pada salah satu sisi kerabang telur sedang embrio yang berkembang serabut yang menyerupai sarang laba-laba semakin jelas
  • Ventilasi dibuka seluruhnya
Hari ke-8 sampai ke-13
  • Pembalikan telur harian
  • Kontrol suhu (38°C) dan lakukan penambahan air pada bak jika jumlah air dalam bak tersebut berkurang.
Hari ke-14
  • Pembalikan telur harian
  • Lakukan peneropongan telur untuk mengetahui embrio yang tetap hidup atau sudah mati. Telr fertile membentuk gambaran mulai gelap dengan rongga udara yang terlihat jelas
Hari ke 15 sampai ke-20
  • Pembalikan telur harian
  • Kontrol suhu dinaikkan sedikit (38,5-39°C) dan lakukan penambahan air pada bak jika jumlah air dalam bak tersebut berkurang.
Hari ke-21
  • Pembalikan telur harian
  • Lakukan peneropongan telur untuk mengetahui embrio yang tetap hidup dan mati. Embrio mati ditandakan dengan bocornya lapisan rongga udara sehingga telur terlihat hitam semua
  • Kontrol suhu (38,5-39°C) dan tambahkan air ke dalam bak
Hari ke-22 sampai ke-25
  • Pembalikan telur harian
  • Kontrol suhu (38,5-39°C) dan tambahkan air ke dalam bak
Hari ke-26 sampai ke-27
  • Pembalikan telur dihentikan
  • Kontrol kelembaban, lakukan penyemprotan jika diperlukan (dengan semburan yang paling halus)
  • Biasanya ada telur yang sudah mulai menetas di malam hari
Hari ke-28
  • Telur-telur sudah banyak yang menetas
  • Keluarkan cangkang telur dari rak agar space atau ruangan lebih longgar
  • Keluarkan anak itik yang baru menetas setelah bulunya setengah kering atau kering seluruhnya
  • Proses menetas biasanya berlangsung hingga hari ke-29
  • Dan setelah semuanya selesai mesin tetas bisa dibersihkan dan difumigasi kembali untuk persiapan proses penetasan berikutnya.
Catatan tambahan : hendaklah melakukan pendinginan telur minimal 2 kali sehari karena kalau melihat prilaku unggas yang mengerami telurnya maka dia akan meninggalkan telur untuk berenang beberapa saat kemudian masuk ke tempat pengeraman kembali dan begitu seterusnya dan kalau diperhatikan hal tersebut kadang dilakukan setiap hari.
 

1 komentar:

  1. panduannya sangat luarbiasa pak, makasih,
    lengkap dan detail, bikin saya tambah paham ilmunya.

    cukup menguntunkan kayaknya beternak ayam kampung,
    jika ayam pedaging kadang setiap hari ada aja yang mati, namun saya rasa ayam kampung lebih kuat.

    Halra

    BalasHapus